Dalam sistem pengelolaan air bersih modern, reservoir tank memegang peran sentral sebagai media penyimpanan utama yang menjamin kontinuitas distribusi air. Tangki ini tidak hanya digunakan untuk menyimpan air bersih sementara, tetapi juga berfungsi menjaga kestabilan tekanan, mengantisipasi lonjakan konsumsi, serta menjadi komponen krusial dalam sistem water treatment plant (WTP). Reservoir tank sangat diperlukan di berbagai sektor—termasuk pabrik industri, perhotelan, apartemen bertingkat, rumah sakit, hingga gedung komersial—yang memerlukan pasokan air bersih secara stabil, aman, dan terkontrol.
Dengan desain dan spesifikasi teknis yang dapat disesuaikan, reservoir tank hadir dalam berbagai bentuk dan material, seperti beton, fiberglass, HDPE, hingga stainless steel, masing-masing dengan kelebihan tersendiri.
Lebih dari sekadar tangki air, keberadaan reservoir tank mencerminkan kepatuhan terhadap standar sanitasi, efisiensi operasional sistem air bersih, dan kesiapan menghadapi keadaan darurat seperti pemadaman air dari sumber utama.
Melalui artikel ini, pembaca akan diajak memahami secara menyeluruh tentang fungsi reservoir tank, jenis-jenisnya, cara kerjanya dalam sistem distribusi air, panduan pemeliharaan, hingga tips teknis dalam memilih tangki yang tepat untuk kebutuhan proyek air bersih.
Apa itu Reservoir Tank
Reservoir tank adalah tangki penyimpanan besar yang dirancang untuk menampung air bersih dalam jumlah besar sebelum didistribusikan ke jaringan perpipaan.
Tangki ini sering digunakan pada sistem WTP (Water Treatment Plant), bangunan bertingkat seperti apartemen dan hotel, serta pada industri manufaktur yang memerlukan pasokan air bersih yang konsisten.
Reservoir tank berfungsi sebagai buffer untuk menyimpan air dari hasil pengolahan sebelum dialirkan ke konsumen.
Ini penting untuk mengatasi fluktuasi konsumsi air dan menjaga tekanan stabil dalam sistem distribusi.
Daftar isi

Jenis-Jenis Reservoir Tank Material
Pemilihan reservoir tank untuk sistem penyimpanan air bersih tidak dapat dilakukan sembarangan.
Setiap proyek baik itu untuk hotel, apartemen, rumah sakit, maupun fasilitas pengolahan air bersih industri memerlukan jenis tangki yang sesuai dengan kapasitas operasional, karakteristik lokasi, hingga kualitas air yang disimpan.
Berdasarkan material dan kebutuhan penggunaannya, berikut adalah beberapa jenis reservoir tank yang umum dipakai dalam instalasi air bersih:
a. Reservoir Tank Beton Kapasitas Besar
Reservoir tank berbahan beton sering digunakan dalam instalasi permanen berskala besar seperti water treatment plant, pabrik, fasilitas publik, dan sistem air kota.
Keunggulan utama dari tangki beton adalah kekuatannya yang tinggi dan umur pakai yang panjang, bahkan bisa mencapai puluhan tahun.
Selain itu, tangki ini sangat cocok untuk dipasang di bawah tanah karena memiliki daya tahan terhadap tekanan tanah dan perubahan suhu ekstrem.
b. Tangki Air Stainless Steel
Untuk mengutamakan Kebersihan dan Higienitas Maksimal
Untuk aplikasi di mana standar kebersihan menjadi prioritas utama seperti di hotel bintang lima, apartemen mewah, rumah sakit, hingga laboratorium tangki stainless steel adalah pilihan ideal.
Material ini memiliki ketahanan luar biasa terhadap karat, mudah dibersihkan, serta tidak bereaksi terhadap zat kimia yang umum terkandung dalam air bersih.
Stainless steel juga memberikan tampilan estetis modern dan profesional, menjadikannya favorit untuk bangunan komersial.
c. Tangki HDPE atau Plastik
Desain Praktis, Bobot Ringan, dan Harga Ekonomis
Tangki air berbahan plastik atau HDPE (High-Density Polyethylene) banyak digunakan untuk keperluan rumah tangga, industri kecil, atau sebagai cadangan air sementara di proyek konstruksi.
Keunggulannya antara lain ringan, mudah dipindahkan, tahan terhadap zat kimia dan sinar UV, serta memiliki harga yang relatif terjangkau.
Meski tidak sekuat beton atau stainless steel, tangki HDPE merupakan pilihan efisien untuk penyimpanan air bersih skala menengah.
d. Tangki Fiberglass
Jenis Tangki penampungan air Tahan Cuaca dan Ringan dengan Daya Tahan Tinggi
Tangki fiberglass menawarkan kombinasi ideal antara ketahanan, fleksibilitas, dan bobot ringan.
Material ini tidak mudah berkarat dan sangat tahan terhadap kondisi lingkungan ekstrem, baik itu suhu tinggi, kelembaban tinggi, maupun paparan sinar matahari langsung.
Oleh sebab itu, tangki ini sering digunakan pada sektor industri terbuka, pabrik kelapa sawit, tambang, atau wilayah yang minim perlindungan cuaca.
Selain itu, reservoir tank fiberglass dapat dipesan sesuai bentuk dan volume yang dibutuhkan, menjadikannya sangat fleksibel dalam implementasi desain sistem air bersih.
Perbandingan Material Reservoir Tank
Pilih Mana yang Tepat untuk Proyek Anda?
Untuk menentukan jenis tangki penampungan air bersih terbaik, sangat disarankan melakukan analisis terhadap kebutuhan spesifik proyek, kapasitas harian air, kualitas air, lokasi geografis, serta ketersediaan lahan.
Dengan mempertimbangkan kelebihan dan keterbatasan dari masing-masing material, pengguna dapat memastikan efisiensi investasi jangka panjang dan keandalan sistem distribusi air.
Cara Kerja Reservoir Tank Pengolahan dan Distribusi Air Bersih
Reservoir tank memegang peranan vital dalam rangkaian sistem pengolahan air bersih, baik untuk skala industri, komersial, maupun rumah tangga.
Fungsi utamanya tidak hanya sebagai tempat penyimpanan sementara, melainkan juga sebagai penyeimbang tekanan aliran air, pengatur distribusi, dan pengaman sistem terhadap fluktuasi penggunaan.
1. Menampung Air Hasil Proses Pengolahan (Filtrasi dan Sedimentasi)
Setelah melalui proses awal seperti koagulasi, sedimentasi, dan filtrasi pada instalasi pengolahan air (WTP), air bersih akan dialirkan menuju reservoir tank.
Tangki ini berfungsi sebagai penampungan cadangan yang menjamin kontinuitas pasokan air ke jaringan pengguna, sekaligus sebagai buffer terhadap gangguan teknis atau lonjakan permintaan.
2. Menstabilkan Tekanan Distribusi Air
Salah satu peran paling krusial dari reservoir tank adalah menstabilkan tekanan dalam sistem distribusi.
Pada jam-jam penggunaan tinggi (peak hour), tangki akan menyediakan cadangan air dengan tekanan yang cukup untuk mencegah turunnya debit.
Sebaliknya, saat penggunaan rendah, air tetap tersimpan dalam tangki tanpa tekanan berlebih.
Reservoir ini sering terhubung dengan sistem pompa tekanan (booster pump) atau menara air untuk menciptakan tekanan gravitasi.
Pengaturan tekanan ini penting untuk menjaga efisiensi sistem dan mencegah kerusakan pada pipa serta keran di ujung pengguna.
3. Dilengkapi Sensor, Panel Kontrol, dan Otomatisasi
Reservoir modern dilengkapi dengan level sensor air otomatis (ultrasonik atau pelampung digital), katup solenoid, serta panel kontrol digital yang memungkinkan pemantauan dan pengendalian sistem secara real-time.
Sensor ini mendeteksi ketinggian air di dalam tangki dan memicu sistem pompa atau katup sesuai kebutuhan.
Sebagai bagian dari sistem kontrol otomatis, tangki biasanya diintegrasikan dengan:
- Float switch atau sensor level digital
- Sistem SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition) untuk monitoring jarak jauh
- Katup kontrol tekanan dan aliran
- Alarm overflow dan proteksi dry-run pada pompa
4. Sistem Overflow, Drainase, dan Pencegahan Banjir
Setiap reservoir tank harus dilengkapi sistem overflow (limpasan air) dan saluran drainase darurat untuk menghindari risiko banjir akibat kelebihan volume air, baik karena sensor gagal bekerja maupun kondisi ekstrem seperti hujan deras pada sistem air baku terbuka.
Overflow diarahkan ke sistem resapan atau kanal pembuangan.
Drainase di bagian bawah tangki juga digunakan untuk pembersihan rutin (flushing), mengeluarkan lumpur atau endapan, serta pemeliharaan berkala tangki air.
Integrasi Reservoir Tank dalam Rangkaian Sistem Air Bersih Modern
Penggunaan reservoir tank tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus terintegrasi dengan sistem perpipaan, pompa, kontrol elektronik, dan infrastruktur pendukung lainnya seperti PLC, sensor tekanan, hingga sambungan ke jaringan distribusi utama.
Dalam sistem air skala kota atau industri, reservoir bahkan dikontrol menggunakan teknologi IoT untuk mengatur jadwal distribusi berdasarkan permintaan dan data historis penggunaan.
Komponen Utama Reservoir Tank dan Fungsinya
Reservoir tank tidak hanya berupa wadah kosong untuk menampung air, melainkan terdiri dari berbagai komponen fungsional yang saling bekerja untuk memastikan kestabilan, kebersihan, dan efisiensi sistem penyimpanan serta distribusi air.
Setiap bagian memiliki peran penting dalam mendukung kinerja sistem pengolahan air bersih secara menyeluruh.
1. Inlet dan Outlet Pipe (Pipa Masuk dan Keluar)
Pipa masuk (inlet) berfungsi sebagai jalur utama untuk mengalirkan air hasil pengolahan menuju reservoir.
Sedangkan pipa keluar (outlet) menjadi jalur distribusi air yang siap digunakan oleh pengguna. Keduanya harus dirancang dengan diameter yang tepat agar tidak terjadi bottleneck atau tekanan balik.
Desain posisi pemasangan pipa masuk dan keluar sangat memengaruhi efisiensi sirkulasi air di dalam tangki.
Biasanya, pipa masuk berada pada bagian atas atau samping tangki, sedangkan pipa keluar berada di bagian bawah untuk memanfaatkan gaya gravitasi.
2. Sensor Level Air (Water Level Sensor)
Sensor level air bertugas memantau ketinggian air di dalam tangki secara real-time.
Sensor ini dapat berupa sistem pelampung mekanis atau sensor digital seperti sensor ultrasonik dan kapasitif.
Dengan bantuan panel kontrol otomatis, sensor ini memungkinkan pengaturan pompa untuk mengisi atau menghentikan pasokan air secara otomatis sesuai dengan kebutuhan, sekaligus mencegah terjadinya kondisi kosong atau tumpah (overflow).
3. Overflow Pipe (Pipa Limpahan)
Overflow pipe atau saluran limpahan merupakan fitur pengaman yang sangat penting dalam reservoir tank.
Saat air dalam tangki mencapai batas maksimum, saluran ini akan mengalirkan air keluar menuju sistem drainase atau kolam resapan agar tidak terjadi banjir atau kerusakan sistem.
Saluran overflow harus dipasang dengan kemiringan tertentu dan diameter yang cukup agar mampu mengalirkan kelebihan air secara efisien dalam waktu singkat.
4. Manhole atau Access Hatch (Lubang Akses Pemeliharaan)
Manhole atau lubang akses memungkinkan teknisi melakukan pemeriksaan dan perawatan rutin pada bagian dalam reservoir.
Ini sangat penting untuk menjaga kualitas air dan memastikan tidak ada kontaminasi, endapan, atau pertumbuhan lumut.
Lubang akses biasanya dilengkapi dengan penutup kedap air dan dilokasikan di atas atau sisi tangki, tergantung pada desain.
5. Ventilation atau Air Vent (Sirkulasi Udara)
Ventilasi berfungsi untuk mengatur sirkulasi udara di dalam tangki tertutup. Sistem ini mencegah terbentuknya tekanan negatif (vakum) saat air keluar, dan tekanan berlebih saat pengisian.
Ventilasi juga membantu menghindari kontaminasi dari luar seperti uap kimia, serangga, atau hewan kecil yang dapat masuk jika tangki tidak memiliki sirkulasi udara yang baik.
6. Lining dan Coating Internal (Pelapis Anti-Korosi)
Material pelapis bagian dalam reservoir sangat krusial, terutama untuk tangki berbahan logam atau beton.
Pelapisan menggunakan epoxy, food grade coating, atau material antimikroba akan membantu mencegah karat, korosi, serta pencemaran air.
Lining juga menjaga agar kualitas air tetap higienis dan memenuhi standar kesehatan, terutama jika digunakan untuk air minum.
7. Drain Valve dan Saluran Pembuangan Dasar
Drain valve atau katup pembuangan terletak di dasar tangki dan digunakan untuk mengeluarkan air sisa, lumpur, atau kotoran yang mengendap.
Saluran ini penting saat dilakukan proses flushing atau pencucian tangki secara berkala.
Pembuangan ini juga berguna saat tangki perlu dikosongkan dalam kondisi darurat atau pemeliharaan.
8. Sistem Pengontrol Otomatis dan Panel Monitoring
Dalam sistem reservoir modern, penggunaan panel digital untuk monitoring kondisi air seperti suhu, tekanan, dan level air sudah sangat umum.
Panel ini dapat terhubung dengan sistem SCADA atau IoT untuk manajemen jarak jauh.
Dengan sistem kontrol otomatis, efisiensi distribusi air dan keamanan operasional tangki meningkat drastis, sekaligus mengurangi risiko kesalahan akibat intervensi manual.
9. Pengaman Tekanan dan Katup Relief
Komponen ini mencegah tekanan berlebih di dalam tangki akibat suhu tinggi atau suplai air berlebihan. Katup relief akan terbuka secara otomatis saat tekanan melebihi ambang batas tertentu, sehingga risiko ledakan atau kebocoran tangki dapat dihindari.
Katup ini sangat penting terutama untuk tangki tertutup yang bekerja dalam tekanan tinggi atau digunakan dalam industri.
10. Sistem Isolasi Termal (Jika Diperlukan)
Beberapa reservoir, terutama yang digunakan di daerah bersuhu ekstrem atau untuk cairan khusus, dilengkapi insulasi termal atau pelapis panas.
Tujuannya adalah menjaga suhu cairan tetap stabil dan mencegah pembentukan kondensasi atau kerusakan akibat ekspansi termal.
Penggunaan isolasi juga membantu efisiensi energi terutama pada sistem pemanas air (hot water reservoir).
“Reservoir tank bukan sekadar tempat penyimpanan air Tangki Penampungan Air Bersih ini adalah komponen vital dalam sistem pengolahan dan distribusi air bersih yang modern. Dari sensor level otomatis, sistem overflow, hingga lapisan pelindung antikarat, setiap detailnya dirancang untuk menjamin keamanan, efisiensi, dan keberlanjutan pasokan air di fasilitas-fasilitas penting seperti pabrik, hotel, apartemen, dan instalasi pengolahan air bersih. Tanpa reservoir tank yang andal, kestabilan tekanan air dan kualitas air bersih tidak akan dapat dijaga secara optimal
Perawatan dan Pemeriksaan Berkala Reservoir Tank
Agar reservoir tank berfungsi dengan optimal dan umur pakainya panjang, diperlukan tindakan pemeliharaan dan pemeriksaan rutin secara berkala.
Langkah ini penting dilakukan, terutama pada sistem penampungan air di fasilitas skala besar seperti hotel, pabrik, apartemen, hingga pusat pengolahan air bersih.
1. Pembersihan Interior Tangki reservoir
Kebersihan air sangat bergantung pada kondisi bagian dalam reservoir tank. Oleh karena itu, bagian dalam tangki perlu dikuras dan dibersihkan minimal setiap enam bulan sekali.
Prosedur ini bertujuan menghilangkan endapan lumpur, kotoran, dan potensi pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri atau lumut.
Teknik pembersihan yang digunakan harus sesuai dengan material tangki, baik itu beton, stainless steel, fiberglass, maupun HDPE. Pembersihan dapat dilakukan secara manual atau menggunakan sistem jet washer dan alat sanitasi khusus.
2. Pemeriksaan Struktural dan Kebocoran
Struktur fisik reservoir harus diperiksa secara visual untuk memastikan tidak ada keretakan, deformasi, atau tanda-tanda korosi, terutama pada sambungan dan sudut tangki.
Kebocoran kecil sekalipun dapat menurunkan efisiensi sistem dan mencemari area sekitarnya.
Pemeriksaan rutin ini juga berguna untuk mendeteksi kelembaban berlebih di area isolasi atau lantai, yang bisa menjadi indikasi awal kebocoran.
3. Uji Fungsi Peralatan Tambahan
Komponen seperti sensor level air, katup otomatis, sistem pompa, hingga panel kontrol digital harus diuji secara berkala.
Pastikan alat-alat ini berfungsi normal dan memberikan data yang akurat.
Sensor yang tidak responsif atau pompa yang aus dapat menyebabkan gangguan pada suplai air, tekanan tidak stabil, atau potensi overflow.
4. Pemeriksaan Saluran Pembuangan dan Overflow
Drain valve dan overflow pipe harus dalam kondisi tidak tersumbat dan mampu mengalirkan air dengan lancar saat dibutuhkan.
Kegagalan sistem pembuangan dapat menyebabkan genangan air, pencemaran, atau gangguan mekanis pada sistem.
Selain itu, sistem ventilasi udara juga harus dicek untuk mencegah tekanan berlebih dan menjaga kualitas udara di dalam tangki.
5. Dokumentasi dan Jadwal Pemeliharaan
Setiap kegiatan perawatan harus terdokumentasi dengan baik, termasuk tanggal pelaksanaan, hasil inspeksi, serta tindakan korektif yang dilakukan.
Dokumentasi ini penting sebagai acuan perencanaan perawatan di masa mendatang dan sebagai bukti kelayakan operasional bagi audit atau sertifikasi kualitas.
Dengan penerapan prosedur perawatan dan pemeriksaan berkala secara disiplin, reservoir tank akan berfungsi lebih stabil, aman, dan efisien dalam jangka panjang, sekaligus menjaga kualitas air tetap sesuai standar kesehatan.
Panduan Memilih Reservoir Tank untuk Proyek Air Bersih
Dalam proyek pengolahan air bersih, terutama skala menengah hingga besar seperti industri, perumahan, maupun fasilitas publik, pemilihan reservoir tank yang tepat sangat menentukan keberhasilan sistem distribusi air.
Kesalahan dalam pemilihan dapat menyebabkan ketidakefisienan, gangguan suplai, atau bahkan kerusakan sistem.
Berikut beberapa panduan teknis yang wajib dipertimbangkan sebelum menentukan jenis dan spesifikasi reservoir tank:
1. Kapasitas dan Volume Tangki
Hal pertama yang harus dihitung adalah total kebutuhan konsumsi air harian, termasuk kebutuhan pada jam-jam puncak.
Estimasi ini sebaiknya didasarkan pada jumlah pengguna, jenis kegiatan, serta cadangan minimum yang harus tersedia.
Reservoir harus mampu menampung air minimal untuk kebutuhan 1–2 hari operasional, dengan mempertimbangkan faktor fluktuasi pasokan dan tekanan.
Untuk sistem skala besar, biasanya juga digunakan sistem pembagian dua tangki (operasional dan cadangan).
2. Jenis Material Tangki Reservoir
Material tangki sangat menentukan daya tahan, ketahanan terhadap korosi, dan kualitas air. Pilihan material umumnya meliputi:
- Beton bertulang: cocok untuk instalasi permanen dan kapasitas besar.
- Stainless steel: higienis dan tahan lama, ideal untuk air minum.
- Fiberglass reinforced plastic (FRP): ringan dan tahan korosi, cocok untuk berbagai kondisi cuaca.
- HDPE (High-Density Polyethylene): tahan bahan kimia dan cocok untuk air olahan atau hujan.
Pemilihan material juga harus memperhatikan jenis air yang ditampung (air bersih, air olahan, atau air hujan) serta sifat kimianya.
3. Lokasi Pemasangan Reservoir tank
Reservoir dapat dipasang di atas tanah (elevated tank), bawah tanah (underground tank), atau permukaan tanah (ground tank).
Masing-masing memiliki keunggulan dan keterbatasan:
- Elevated tank: memberikan tekanan gravitasi alami, ideal untuk suplai tanpa pompa tambahan.
- Underground tank: menghemat ruang, melindungi dari paparan suhu ekstrem, namun lebih sulit dalam perawatan.
- Ground tank: mudah diakses dan ekonomis, namun sering memerlukan pompa untuk distribusi air.
Pemilihan lokasi pemasangan harus mempertimbangkan tekanan air yang dibutuhkan, kontur lahan, serta kemudahan akses untuk perawatan.
4. Kelengkapan Fitur Operasional Reservoir Tank
Pastikan reservoir dilengkapi dengan fitur-fitur penting seperti:
- Indikator level air: manual atau digital untuk memantau isi tangki.
- Sistem overflow: mencegah tumpahan air berlebih.
- Saluran drainase dan flushing: memudahkan pembersihan dan pengosongan tangki.
- Lubang inspeksi dan manhole: untuk pemeriksaan dan pemeliharaan rutin.
- Ventilasi udara: mencegah tekanan negatif dan menjaga kualitas udara di dalam tangki.
Fitur tambahan seperti pemanas, isolasi termal, atau sensor otomatis sangat direkomendasikan pada instalasi khusus yang menuntut kestabilan suhu dan tekanan.
5. Kemudahan Instalasi dan Pemeliharaan
Reservoir yang baik tidak hanya kokoh dan higienis, tetapi juga mudah dalam proses instalasi, perawatan, dan penggantian komponen.
Pertimbangkan aspek sebagai berikut:
- Desain modular atau panel (terutama untuk fiberglass dan HDPE)
- Akses teknisi untuk masuk dan membersihkan tangki
- Dukungan teknis dan suku cadang dari produsen
- Integrasi dengan sistem kontrol dan pompa yang ada
Dengan mempertimbangkan seluruh aspek tersebut secara menyeluruh, reservoir tank dapat berfungsi optimal sebagai bagian dari sistem air bersih yang andal, efisien, dan tahan lama.
Pentingnya Reservoir Tank dalam Sistem Manajemen Air Bersih Modern
Reservoir tank berperan krusial sebagai pusat distribusi dan penyimpanan dalam sistem manajemen air bersih, baik di sektor industri, komersial, maupun perumahan.
Lebih dari sekadar tempat penampungan, tangki air ini mendukung kelangsungan suplai air secara stabil, higienis, dan berkelanjutan melalui integrasi teknologi sensor air, pelapis antimikroba, serta sistem pemantauan otomatis.
Dengan pemahaman yang baik tentang komponen-komponen penting reservoir tank seperti saluran overflow, sensor level air, katup pembuangan, dan ventilasi udara, pengguna dapat merancang dan mengelola sistem penampungan air bersih yang efisien.
Perawatan berkala dan pemilihan jenis reservoir tank yang sesuai—baik dari segi material seperti fiberglass atau stainless steel, maupun kapasitas volume dan fitur pengaman tekanan menjadi kunci utama dalam memastikan sistem berjalan optimal.
Dalam konteks pengolahan air modern dan sistem distribusi air bertekanan, reservoir tank bukan sekadar pelengkap infrastruktur,
Tetapi merupakan bagian integral dari sistem water treatment plant (WTP), jaringan perpipaan, hingga sistem air bersih berbasis IoT.
Investasi dalam reservoir tank yang tepat akan berdampak langsung terhadap kualitas air yang digunakan, efisiensi operasional, serta keberlanjutan lingkungan.
Konsultasi Gratis Tangki Reservoir dari Pabrik Spesialis No.1 di Indonesia
Apakah Anda sedang mencari reservoir tank berkualitas tinggi untuk kebutuhan industri, komersial, atau proyek air bersih Anda?
Toya Arta Sejahtera sebagai pabrik spesialis tangki reservoir terbaik di Indonesia siap memberikan solusi sesuai spesifikasi, kapasitas, dan kebutuhan Anda.
Dengan pengalaman bertahun-tahun dalam manufaktur dan instalasi tangki air industri, kami menawarkan layanan konsultasi gratis, termasuk rekomendasi desain, pilihan material (fiberglass, stainless, HDPE), hingga sistem kontrol otomatis yang efisien dan tahan lama.
Pertanyaan Umum (FAQ) Seputar Reservoir Tank
Reservoir tank adalah tangki penampungan air yang digunakan untuk menyimpan air bersih, air olahan, atau air cadangan dalam sistem distribusi air, baik di sektor industri, komersial, maupun domestik.
Tangki reservoir berarti wadah khusus yang dirancang untuk menampung dan mengatur aliran air sebelum didistribusikan. Tangki ini penting untuk menjaga tekanan air tetap stabil dan memastikan pasokan air berjalan lancar.
Reservoir dalam konteks teknik berarti tempat atau wadah untuk menyimpan zat cair, khususnya air. Istilah ini sering digunakan dalam sistem pengolahan air, bendungan, dan infrastruktur pasokan air.
Jika tangki reservoir kosong, maka sistem distribusi air bisa terganggu. Tekanan air menurun, pompa bisa bekerja berlebihan, dan suplai air ke pengguna bisa terhenti, terutama saat beban puncak penggunaan air.
